(●'◡'●) Brandon Prajogo

Kok Jarang Main Game?

Sejak saya masih kelas 7 sampai sekarang, saya kerap ditanya oleh teman yang kurang lebih begini:

“Bran, di hp-mu ada game apa aja?”

Saya langsung menunjukan daftar aplikasi yang saya punya, dan di situ hanya terdapat game Crossy Road dan slither.io. Iya bener, kalian gak salah dengar. Saya cuma punya 2 game di hp saya.

Ehh lupa, sama 1 lagi game Dino di browser Google Chrome (game dinosaurus yang loncat-loncat itu lho, yang biasa dimainin pas gak ada internet).

Karena gamenya sedikit, dan ketiganya jarang, atau bahkan tidak pernah dimainkan oleh teman-teman saya, alhasil saya tidak pernah diajak mabar sewaktu jam istirahat sekolah atau pas kumpul bareng teman-teman kos.

Memang aneh rasanya sebagai laki-laki, jenis kelamin yang sering dikaitkan suka nonton bola dan pastinya main game. Tapi saya sendiri jarang main game, gak suka nonton bola, dan gak ngikutin dunia olahraga. Itu juga menjadi penyebab saya sering gak tahu tragedi, atau kasus yang terjadi dalam dunia olahraga seperti misalnya Tragedi Kanjuruhan (sekarang jadi tahu karena kejadian ini dibicarakan sama banyak orang, sampai masuk ke ranah hukum).

Sekarang balik lagi ke topik. Saking cueknya dengan game, ketika saya menghapus seluruh data di hp akibat kesalahan dalam mengoprek, saya sering lupa install ulang ketiga game tersebut. Jadi sebenarnya saya bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa meskipun sama sekali tidak ada game.

Kalau lagi istirahat, banyak yang menghabisin waktu luangnya dengan main game dengan alasan biar rileks. Saya sangat tidak setuju dengan hal ini, memang bermain game bisa bikin rileks kalau menang pada game tersebut. Terus kalau kalah? Pastinya malah emosi kan? Kata-kata kasar juga sering kali terucap, bahkan ada orang yang banting hp mereka hanya gara-gara kalah. Ini alasan pertama saya jarang main game.

Kedua soal Biaya. Ini tergantung gamenya sih, kalau kalian juga hanya main game seperti Crossy Road, slither.io, dan sejenisnya kalian bisa mainkan secara gratis dan gak perlu spek yang tinggi.

Beda cerita kalau yang kalian mainkan adalah Genshin Impact, PUBG, dan sejenisnya yang itemnya ada yang berbayar. Ini belum juga sama biaya hardware yang kalian pakai. Kalau mau mainnya enak minimal pakai smartphone yang harganya menengah, atau bahkan yang harganya mahal biar perfomanya maksimal. Kalian juga harus beli hp baru tiap 2 tahun sekali kalau mau mempertahankan kelancarannya, dibanding orang yang pakai hp bukan untuk main game bisa sampai 3 tahun lebih.

Hal yang paling saya benci dari game-game berat karena ukuran filenya yang gak masuk akal. Sebagai contoh Genshin Impact, kalau kalian lihat di Play Store ukuran game tersebut memang cuma 228 MB, tapi setelah install Genshin Impact, mereka bakal download file tambahan yang ukurannya 20 GB lebih.

Masih kurang gila? Mari kita coba lihat game-game yang ada di PC.

Saya ambil contoh Call of Duty, yang system requirementsnya sebagai berikut:

Ini baru minimum system requirements, yang artinya spek minimal yang kalian butuhkan untuk main game tersebut. Namanya juga minimal, yang berarti dengan spek tersebut belum tentu bisa bermain dengan lancar. Kalau dilihat syarat CPU dan GPU (Video) gak begitu mahal, namun saya gak habis pikir harus meluangkan 246GB storage kita sebagai syarat minimum. Kalau mau lancar coba cek competitive system requirements sebagai berikut:

Nah loh, itu spek yang dibutuhin biar lancar. Kalau mau yang paling lancar, sampai bisa main di FPS paling tinggi di resolusi 4K, kira-kira butuh spek begini:

Semua spesifikasi yang saya jelaskan tadi akan mulai terasa usang hanya dengan waktu 2–5 tahun saja. Sebagai anak kos yang dananya terbatas, saya masih belum mampu mengeluarkan uang untuk merakit pc meskipun pakai syarat minimum dari Call of Duty, apalagi kalau rutin ganti komponen setiap 2–5 tahun sekali. Jika budget kalian cukup, hal ini tidak akan menjadi masalah.

Ketiga soal manajemen waktu yang masih payah. Padatnya agenda di sekolah saya seperti penugasan, ulangan, dan acara membuat pilihan bermain game bukan pilihan yang bijak, karena bisa menjerumuskan prestasi saya. Tentu tidak semua orang seperti ini, saya juga pernah menemukan teman yang sering main game namun prestasinya tetap salah satu yang terbaik di sekolah berkat manajemen waktu yang bagus.

Karena saya jarang bermain game, penggunaan hp saya gunakan sebagai sarana komunikasi via sosmed ijo alias WhatsApp. Gak mungkin kan komunikasi jarak jauh sama crush kalian masih pakai surat?

Sistem pembelajaran di sekolah saya menggunakan Google Classroom untuk pengumpulan tugas, ngisi Google Form, dan Zoom buat meeting online. Meskipun meeting online sekarang sudah jarang karena pandemi sudah gak sebrutal dulu, tapi gak ada salahnya kan buat jaga-jaga? Selain itu hp juga saya gunakan untuk main sosmed lain seperti YouTube, Instagram dan Twitter.

Untuk laptop, biasa saya gunakan untuk coding dengan aplikasi Visual Studio Code dan Notepad++, buat tugas sekolah seperti ngetik dokumen di Word/Docs, buat presentasi di PowerPoint/Canva dan Pengolahan Data di Excel/Spreadsheet. Saya juga gunakan laptop buat nonton YouTube, dan terakhir buat bikin blog ini.

Kembali ke diri masing-masing, saya tahu setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Jika kalian merasa 3 alasan tidak bermain game tadi gak relevan bagi kalian, maka sah-sah saja untuk lanjutkan hobi kalian bermain game. Jangan salah, bermain game juga ada hal positif yang bisa didapat.

Kalau kalian masih memiliki masalah akibat bermain game, kalian tidak harus meninggalkan game favorit kalian. Karena yang terpenting adalah soal manajemen waktu, tahu kapan saatnya main game, dan tahu kapan saatnya belajar/bekerja.

#Cerita #Teknologi