(●'◡'●) Brandon Prajogo

Kok Terlalu Simpel?

Dua hari yang lalu, saya pernah buat survei singkat di akun Instagram saya terkait desain website blog ini. Saya hanya memberikan dua tipe pertanyaan: satu berbentuk poling, dan satu lagi berbentuk jawaban tertulis.

  1. Bagaimana desain website ini? (Opsi 1: Udah bagus kok, Opsi 2: Masih kurang sih)
  2. Kalau desain website ini kurang bagus, apa yang perlu ditambahin?

Jawaban yang diberikan diluar ekspektasi saya. Dari 27 responden, sebanyak 81% menjawab desain website ini sudah bagus, hanya 19% yang mengatakan kalau desainnya masih kurang bagus.

Kenapa diluar ekspektasi? Karena saya kira banyak yang memilih kurang bagus karena desain website saya bukan tipe kebanyakan orang (ya karena terlalu simpel).

Ternyata mayoritas responden suka-suka saja sama desain website saya yang simpel ini, dan saya senang mendengarnya.

Sebanyak 19% yang kurang senang sama desain website ini, saya yakin karena alasan yang terlalu simpel itu. Buktinya semakin diperkuat kalau saya lihat pada jawaban pertanyaan kedua.

Dari beberapa jawaban di pertanyaan kedua, ada satu responden yang cukup gamblang menyebutkan kalau website saya perlu tambahan elemen/UI:

“UI dan butuh tambahan beberapa desain grafis biar ngk plain🔥. Semangat Brandon”

Anyway, makasih buat ucapan semangatnya! Saya jadi makin termotivasi :D

Selain itu, salah satu teman saya pernah iseng membuka website saya di sekolah juga langsung berkomentar kalau desain website saya kurang bagus. Kedua masukan dan kritik tadi sebenarnya sangat menarik, makanya saya membuat artikel ini untuk menjelaskan alasannya.

Tak bisa dipungkiri, banyak website pada dasarnya dibuat semenarik mungkin agar banyak pengunjung yang datang dan betah baca kontennya.

Menarik itu sebenarnya sangat subjektif, ada yang menganggap menarik kalau desainnya cukup mentereng, dan memiliki banyak elemen. Tapi, ada juga yang suka kalau desainnya simpel. Kalau saya termasuk orang yang lebih suka desain simpel.

Kenapa Simpel?

Saya membayangkan website blog itu bagaikan buku bacaan, dan kontennya yaitu teks dari buku itu sendiri. Tentunya buku bacaan (terutama buat orang dewasa) sedikit sekali yang ada gambar, elemen, tampilan yang mentereng, karena dibuat supaya pembaca lebih fokus memahami teksnya dengan nalar atau logikanya, dibanding dengan tampilan visual dari gambar atau elemen lain.

Itulah prinsip desain yang saya gunakan dalam pembuatan blog ini. Saya berharap, pembaca blog dapat fokus membaca artikel yang saya publikasikan, ketimbang terdistraksi dengan elemen lain dari websitenya. Itulah sebabnya juga, website ini juga gak ada iklan.

Makin Ngebut

Desain website yang simpel juga punya efek samping postif buat kecepatan website itu sendiri. Semakin simpel desainnya, maka semakin cepat juga waktu yang dibutuhkan untuk membuka websitenya.

Saya sempat coba hitung skor kecepatan website saya via PageSpeed Insights. Berkat desain yang sangat simpel, saya bisa dapet skor 100 alias sempurna.

Meski begitu, kecepatan website juga bisa dipengaruhi banyak faktor lain, seperti kecepatan server, koneksi internet, dan kecepatan browser yang digunakan.

Apakah desainnya gak akan saya modif?

Tentu aja, enggak. Desain yang sama-sama aja kalau udah bertahun-tahun pasti bakal bosen juga. Karena itu, saya juga ada rencana buat modifikasi desainnya, mungkin akan saya tambahkan CSS buat tombol, font, atau warna temanya bakal saya ganti, meskipun tidak akan saya lakukan dalam waktu dekat (karena males wkwkwkwk).

Sebagai penutup, makasih buat yang sudah ngisi survei saya kemarin, dan makasih juga buat yang udah baca artikel ini. Buat yang penasaran, survei itu saya buat murni buat evaluasi desain website ini. Bukan untuk tugas sekolah ataupun hal lain selain itu. Saya yakin masukan dari kalian akan sangat membantu perkembangan website ini.

#Teknologi