Setelah kurang lebih seminggu, akhirnya tanggal 14 kemarin Ujian Sekolah usai juga. Hal ini menandakan tamatnya masa hidupku dijenjang SMA, dan memasuki jenjang baru.
Jenjang baru ini berbeda-beda bagi setiap orang, ada yang lanjut kuliah, ada yang langsung kerja, ada yang mengabdi untuk negara dengan bergabung ke kedinasan, ada juga yang memilih untuk gap year.
Aku percaya setiap orang memiliki jenjang baru sendiri, sehingga apapun jenjang yang kamu pilih tidak ada yang salah.
Pada artikel ini aku enggak ingin cerita tentang jenjang baru yang aku pilih, karena itu akan aku ceritakan dilain waktu. Namun, aku ingin kalian menonton satu video YouTube insipatif yang pernah aku tonton dua tahun lalu. Silahkan klik video di bawah.
Semoga kalian dapat mengambil hikmah yang ada pada video tersebut, terutama untuk kalian yang juga baru saja menamatkan jenjang putih abu-abu. Tetap semangat, dan selamat melanjutkan aktivitas~
Gambar 1: Paus Benediktus XVI sedang mengobrol dengan Kardinal Jorge Mario Bergoglio (Paus Fransiskus) dalam scene film The Two Popes. Sumber: IMDB.
“Bran, kamu paling suka film apa sih?”
Kalau tiga tahun yang lalu aku dapat pertanyaan itu, aku bakal bingung jawabnya. Saat itu, aku memang jarang nonton film.
Kota asalku di Salatiga enggak ada bioskop, berhubung kota kecil—mungkin kurang profitable buat bioskop-bioskop ternama seperti Cinema XXI, CGV, atau Cinépolis buat buka di sana. Kalau mau nonton sebenarnya bisa ke kota Semarang, tapi karena jaraknya jauh (sekitar 52 km dari rumah) dan ortu sering sibuk kerja, jadinya enggak ada yang nganterin.
“Itu kan dulu, kalau sekarang gimana, Bran?”
Karena aku saat ini lagi ngekos di Semarang, jarak bioskop-bioskop tadi jadinya deket banget—Mall Ciputra yang ada Cinema XXI dapat ditempuh hanya dengan jalan kaki. Meskipun akhir-akhir ini udah jarang ke sana, tapi aku inget waktu diajak temen nobar (nonton bareng) film Godzilla x Kong: The New Empire setahun yang lalu.
Selama di Semarang, aku juga pernah nonton film Agak Laen, Fast X, dan The Marvels meskipun di bioskop yang berbeda.
Khusus film The Marvels, itu pernah aku tonton dalam rangka penggalangan dana ke Bali. Ceritanya ketika kelas XI dulu, aku bersama temen sekelas punya rencana buat liburan ke bali sebelum kami naik ke kelas XII. Karena biayanya cukup mahal, kami putusin buat menggalang dana, salah satu cara yang kami lakukan yaitu dengan menjual tiket film.
Gambar 2: Foto bareng temen sekelas setelah acara nobar selesai.
Fun factnya, aku malah lebih sering nonton film di Netfix ketimbang pergi ke bioskop. Alasannya cukup simpel, karena kalau di bioskop biasanya dingin banget, yang bikin males tiap ke sana harus siapin hoodie dulu buat ngangetin badan.
Alasan kedua, kalau nonton bioskop lebih enak kalau bareng sama temen dibanding sendiri. Karena jadwal temen-temen, dan aku juga terbilang padat, kami jarang punya waktu buat nonton bareng.
Oke-oke, balik lagi ke pertanyaan pertama. Bisa dibilang film paling favoritku saat ini yaitu The Two Popes, yang bisa kalian tonton di Netflix.
Salah satu scene yang cukup menarik yaitu ketika Kardinal Jorge Mario Bergoglio sempat menolak ketika ditawarkan oleh Paus Benediktus XVI buat menjadi penggantinya sebagai Paus Gereja Katolik, dan Uskup Roma. Alasannya karena Kardinal Bergoglio punya pengalaman traumatis di masa lalu, yang membuat dirinya merasa belum pantas menjadi Paus.
Ketika Kardinal Bergoglio masih menjabat sebagai Ketua Serikat Yesus (Yesuit) Argentina pada tahun 1976, Republik Argentina sedang dikuasai oleh pemerintahan diktator militer Presiden Jorge Rafael Videla. Sama seperti negara diktator lainnya, semua publikasi seperti koran, TV, radio disensor ketat oleh pemerintah. Kegiatan aktivis banyak dihentikan, dan juga para aktivis banyak yang diculik, dan dibunuh dengan keji. Tokoh keagamaan seperti imam dan biarawati, juga tak luput dari pembunuhan oleh militer.
Di tengah situasi genting itu, Kardinal Bergoglio berjuang buat mempertahankan Yesuit, hingga mencoba membuat kesepakatan dengan pemerintah. Beberapa cara beliau lakukan seperti menyingkirkan buku-buku marxisme, dan meminta para imam Yesuit agar berhenti dari kegiatan aktivis.
Sayangnya banyak orang di sekitarnya, termasuk para imam Yesuit salah mengartikan tindakan Kardinal Bergoglio sebagai tindakan untuk bungkam, dan membela pemerintahan Presiden Videla.
Dua imam yang juga temannya di Yesuit, Jalics dan Yorio memilih untuk tidak mematuhi perintah Kardinal Bergolio, dan memilih untuk tetap melanjutkan kegiatan aktivis. Hal ini menyebabkan keduanya dikeluarkan Kardinal Bergoglio dari Yesuit.
Sebagai konsekuensinya, mereka dilarang untuk mengadakan misa, dan juga tidak lagi mendapat perlindungan dari Gereja. Konsekuensi lain yang mereka terima yaitu diculik oleh pemerintah setempat akibat kegiatan keaktivisan yang mereka adakan. Mereka dikabarkan dipenjara, dan disiksa selama berulan-bulan sampai tangan mereka patah.
Kardinal Bergoglio menceritakan ini kepada Paus Benediktus XVI sebagai penyesalannya, harusnya sebagai Ketua Yesuit, dia melindungi kedua temannya itu, bukan mencabut perlindungan gereja dari mereka.
“Temanku tercinta. Di mana aku waktu itu? Di mana Kristus dalam peristiwa ini? Apa Dia minum teh di istana presiden? Atau apa Dia disiksa di penjara, dengan Yorio dan Jalics?”
— Kardinal Bergoglio (Paus Fransiskus dalam film The Two Popes)
Dalam hidup, kita sering dihadapkan dengan keputusan-keputusan sulit. Keputusan yang mendatangkan kesalahpahaman dari orang-orang terdekat kita, keputusan yang kita rasa belum cukup berpengaruh. Keputusan yang seringkali membawa trauma mendalam untuk kita.
Bisa saja keputusan yang kita ambil membawa dampak positif ke banyak orang. Namun, kita merasa kontribusi yang kita berikan belum cukup sehingga hanya menimbulkan rasa penyesalan. Seperti Kardinal Bergoglio, yang membantu menyelamatkan ribuan nyawa dengan melindungi keluarga para aktivis dengan menyembunyikan mereka ke seminari, dan mengantarkan mereka ke perbatasan, namun merasa gagal dalam melindungi kedua temannya.
Hal ini mengingatkanku bahwa setiap orang memiliki penyesalan dalam hidupnya. Namun kita juga perlu belajar untuk bangkit dari penyesalan itu, seperti dalam Bahasa Jawa “toh, wes kadung.” yang berarti “toh, sudah terlanjur.” kita tidak bisa kembali ke masa lalu, dan mengubah keputusan kita.
Waktu terus berjalan, hal yang dapat kita lakukan yaitu tetap semangat, dan menjadikan penyesalan bukan sebagai penyesalan, namun sebagai refleksi agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Baru-baru ini, Paus Fransiskus dilarikan ke Rumah Sakit Gemelli di Roma, Italia pada Sabtu, 22 Februrari 2025 yang lalu, dan masih dirawat hingga saat ini. Penyakit yang diderita beliau saat ini yaitu Pneumonia ganda. Mari kita doakan bersama agar beliau lekas sembuh, dan dapat menjalankan aktivitasnya dengan normal kembali.
Tanggal 7 Oktober 2023 yang lalu, usia saya mencapai sudah 17 tahun, secara undang-undang saya sudah boleh ikut pesta demokrasi, alias Pemilihan Umum (Pemilu).
Kebetulan sekali, pemilu diadakan KPU beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 14 Februari 2024 — nggak butuh waktu lama buat saya memakai hak pilih.
Sekitar jam 7 pagi, saya bangun tidur dan menonton berita sejenak di Kompas TV, ternyata sudah banyak berita tentang pemilu, biasanya mereka meliput kegiatan capres-cawapres sebelum nyoblos di TPS. Di bawah headline berita juga sudah ada informasi hasil hitung cepat, namun hasilnya masih 0% untuk ketiga capres-cawapres, karena hasilnya baru bisa dipublikasikan jam 3 sore.
Setelah beberapa menit, saya lanjutkan kegiatan dengan mandi, sarapan, dan sikat gigi. Saya juga menyiapkan 2 dokumen yang perlu dibawa:
1. Surat Pemberitahuan Pemungutan Suara (surat undangan) dari KPU. 2. Kartu Tanda Penduduk (yang asli, bukan fotokopi).
Sebenarnya masih ada persyaratan yang enggak wajib, tapi buat saya perlu dipersiapkan, yaitu menentukan pilihan capres-cawapres sebelum memilih. Menentukan pilihan calon legiselatif (caleg) juga penting karena ini Pemilu, bukan hanya Pilpres — dimana kita gak cuma milih presiden dan wakil presiden aja, tapi juga calon DPR, DPD, dan DPRD yang akan duduk di kursi parlemen nanti.
Tapi menurut saya menentukan pilihan caleg cukup susah, karena selain kandidatnya itu banyak banget, kebanyakan caleg biasanya jarang kampanye di lapangan, melainkan memasang baliho di setiap sudut jalan. Jadi kita harus browsing dulu identitas setiap caleg dan program kerjanya.
Setelah semuanya siap, saya dan ortu berangkat ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) sekitar jam 9 pagi. Tak disangka sudah banyak yang mengantri buat memberikan hak pilihnya. Kami langsung memberikan KTP dan surat undangan ke petugas di sana untuk verifikasi dan mendapatkan nomor urut. Saya dapat nomor urut 56, sedangkan ortu saya dapat 55 dan 54.
Setelah mengatri sekitar 45 menit, giliran saya untuk memilih di bilik suara. Sebelum itu, saya diberikan 5 surat suara oleh petugas yang berbeda warna. Setiap warna menandakan jenis calon yang akan dipilih dengan keterangan berikut:
Kalau gambar diatas kurang jelas, sini saya bantu jelasin:
1. Surat abu-abu: berisi para calon presiden-wakil presiden. Ada tiga calon antara lain: 01 Anies-Muhaimin, 02 Prabowo-Gibran, dan 03 Ganjar-Mahfud. 2. Surat kuning: berisi para calon Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 3. Surat merah: berisi para calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD). 4. Surat biru: berisi para calon Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi (DPRD Provinsi). 5. Surat hijau: berisi para calon Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRD Kabupaten/Kota). Hanya wilayah DKI Jakarta saja yang enggak dapat surat ini, karena statusnya sebagai provinsi khusus.
“Buset, tebel banget!” itu reaksi pertama saya waktu pegang kertas suara DPRD kota dan provinsi, ukuran kertas setelah lipatannya dibuka juga besar karena ya tadi — kandidatnya banyak banget. Untungnya kertas suara presiden-wakil presiden, DPR, dan DPD cukup tipis karena kandidatnya cukup sedikit, biar gak kelamaan juga waktu buat melipatnya.
Setelah itu saya masuk ke bilik suara untuk mulai memilih. Pastikan untuk mencoblos salah satu kandidat saja di setiap suaranya, dan jangan dicoret-coret juga biar suaranya tetap sah.
Langkah terakhir, yaitu mencelupkan jari di tinta yang sudah disediakan, sebagai bukti sudah ikut memberikan hak pilihnya di pemilu ini. Tidak ada ketentuan khusus untuk jari mana yang boleh dicelup, tapi biasanya orang-orang pakai jari kelingking.
Selain sebagai bukti memilih, tinta di jari juga bermanfaat buat menikmati banyak promo-promo spesial pemilu yang disediakan oleh banyak restoran dan cafe. Cocok buat orang yang hobinya ngirit seperti saya~ wkwkwk
Segitu dulu aja sharing pengalaman saya waktu ikut pemilu. Yang terpenting, gak perlu menjadi ekstrimis paslon tertentu — apalagi hingga mengorbankan pertemanan dan keluarga kalian. Toh siapapun yang menang, kalian juga tetap akan bekerja atau bersekolah seperti biasa, kan?
Saya harap siapapun yang menang dalam pemilu ini bisa membawa bangsa ini ke jalur yang lebih baik. Setuju?
Jam sebelas pagi hingga sembilan malam—terasa lama, menyakitkan namun penuh sukacita. Karena kasih-Nya, seorang bayi laki-laki sehat lahir ke dunia. Bayi itu tampak kebingungan, namun segera tangisannya memulai hembusan nafas pertamanya. Ya, bayi itu adalah saya.
Tujuh belas tahun berlalu, saya semakin percaya bertambahnya usia merupakan proses yang membuat kita naik level secara pikiran dan perasaan. Hal terindah selama proses pematangan itu adalah pengalaman.
Secara hukum, saya sudah memulai level yang baru sebagai orang dewasa. Orang yang dianggap sudah matang pikiran dan perasaannya. Karena itu waktunya “kebebasan yang bertanggung jawab” alias otoritas diberikan oleh negara, dan orang tua.
Dari negara akan saya dapatkan dalam bentuk KTP & SIM, sedangkan dari orang tua akan saya dapatkan dalam bentuk menentukan rencana masa depan secara mandiri—bahasa kerennya punya pendirian.
Otoritas ini merupakan berkat sekaligus tekanan yang menguatkan bagi saya. Bisa dikatakan berkat karena sebagai wujud kepercayaan orang tua dan negara kepada saya dalam menjalani level yang baru ini.
Dikatakan juga sebagai tekanan, karena akan muncul berbagai masalah yang tidak diinginkan, namun menguatkan karena membuat saya bermental baja dalam menghadapinya.
Semua ini mustahil terjadi tanpa dukungan dari orang-orang baik disekitar saya, seperti orang tua, bapak/ibu guru, teman-teman, serta saudara yang senantiasa mendampingi saya.
Harus saya akui masih banyak masalah yang saya alami yang perlu diselesaikan—tak jarang membuat mereka kecewa kepada saya. Saya yakin rasa kacewa itu sebagai bentuk kepedulian mereka agar saya bisa lebih baik lagi, karena itu saya sangat berterima kasih dan meminta maaf atas segala kesalahan yang kurang berkenan.
Dengan bertambahnya usia ini, meskipun jalan masih sangat panjang dan berliku, saya siap untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik—matang dalam pikiran serta perasaan.
Dikutip dari KBBI, warna adalah kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya. Karena itu, semua orang yang memiliki indra penglihatan yang sehat, serta berada di tempat yang terang pasti dapat melihat warna.
Saya yakin setiap orang memiliki warna favorit, ada yang suka warna hijau, hitam, cokelat, merah, ungu, dan masih banyak warna lainnya.
Uniknya setiap warna memiliki artinya masing-masing secara psikologis. Misalnya warna hitam melambangkan kemisteriusan, keberanian, kekuatan, atau rasa tidak bahagia. Hitam sering digunakan sebagai simbol ancaman, namun juga dapat menjadi indikator kekuatan.
Seperti kebanyakan orang, saya juga punya warna favorit. Sesuai judul, warna favorit saya yaitu biru, dan pada postingan kali ini akan saya jelaskan alasan memilih warna ini.
Bisa dikatakan biru merupakan warna yang natural, karena kita dapat menemukannya dengan mudah pada langit dan lautan. Karena di Salatiga tidak ada laut, jadinya warna biru lebih sering terlihat di langit yang cerah.
Rumah saya terdapat loteng yang cukup luas yang biasa dipakai oleh mama untuk menjemur baju. Berhubung bahannya terbuat dari semen yang cukup kuat, loteng di rumah saya dapat dipijak lebih dari 1 orang. Ketika cuaca sedang cerah, langit berwarna biru tampak terlihat dengan jelas.
Karena bagus banget, jadinya setiap siang saya sering pergi ke loteng untuk bersantai dan mengambil fotonya.
Kenapa sih pilih warna biru jadi warna favorit?
Ketika memandang langit biru yang cerah, rasanya membuat hati semakin tenang, selain itu warna biru juga memberi kesan yang santai, melakukan sesuatu dengan tujuan yang pasti tanpa terburu-buru. Hal ini selaras dengan arti warna biru secara psikologis yang memberikan efek ketenangan, kestabilan, dan produktifitas. Karena itu blog ini juga menggunakan aksen biru sebagai warna utamanya, dengan kode warna #004AAD.
Tentunya langit yang biru tak terasa lengkap jika tidak ditemani oleh awan yang bewarna putih. Karena itu warna putih menjadi warna favorit kedua saya. Secara psikologis, warna putih menggambarkan kesucian, kedamaian, kekosongan, dan kepolosan. Hal yang saya suka di sini dari warna putih ada pada bagian kedamaian. Saya sering melihat orang yang memilih bertengkar untuk menyelesaikan masalah, bahkan tak jarang sampai melukai fisik orang lain. Tentunya jauh lebih indah dan praktis jika kita memilih untuk mengatasi masalah dengan orang lain secara damai daripada bertengkar yang hasilnya belum tentu baik, bukan?
Hal kedua yang saya sukai dari warna putih yaitu melambangkan kepolosan. Kepolosan dalam KBBI berarti kesederhanaan (tentang sikap dan tingkah laku). Dari pengertiannya saja, sudah jelas bahwa kepolosan mengutamakan kesederhanaan. Dalam kehidupan nyata, gaya hidup yang sederhana membuat privasi kita makin terjaga, karena tidak tampil mewah atau mencolok di hadapan orang lain.
Itulah cerita singkat kedua warna favorit saya, biru dan putih. Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga punya warna favorit?
“I see skies of blue, and clouds of white, the bright blessed day, the dark sacred night, and I think to myself, what a wonderful world.”
Lato-lato sudah ada jauh sebelum itu, tapi Fidget Spinner menjadi mainan pilihan masyarakat. Anak-anak membentangkan tulisan “Om Telolet Om” di pinggir jalan, berharap setiap sopir bus yang lewat membunyikan klaksonnya. Warga Jakarta telah memilih gubernur baru, meski sekarang sudah diganti dengan pejabat gubernur (Pj). Coba tebak tahun berapakah itu?
Ya betul, tahun 2017. Masih duduk di bangku 5 SD, tugas-tugas masih belum banyak, hiburannya cuma main, nonton, makan. Bisa dibilang saya termasuk anak yang lumayan rajin, bahkan lebih rajin ketimbang saat ini.
Walaupun masih dibimbing mama, saya belajar tiap hari, gak cuma pas ulangan aja. Tugas saya kumpulkan tepat waktu. Sempat masuk ranking 10 besar di kelas. Berkat kerajinan ini juga, saya jarang dapat remidi.
“Brand… tidur sana, biar nanti bisa konsentrasi belajarnya.” kalimat yang biasa diucapkan mama kalau besoknya ada ulangan.
Sebagai anak yang suka menikmati free time di siang hari, tidur siang itu enggak banget. “Kalau malam udah tidur, ngapain siang tidur lagi? Kan tenagaku masih banyak.” itu pikir saya. Karena biasa nurut sama orang tua, jadinya tetep saya lakuin. Tapi ya gak serius.
Mama saya sudah tahu ini, karena itu setiap beberapa menit sekali beliau pergi ke kamar buat ngecek saya beneran tidur atau enggak.
Biasanya saya sudah siapin hp dan selimut. Jadi waktu tidur siang biasa saya habiskan dengan bermain hp, sambil dengerin suara luar biar gak ketahuan. Kalau ada suara langkah kaki, dengan sekejap saya langsung sembunyikan hp dibalik selimut dan memejamkan mata biar kelihatan tidur. Kalau mama pergi biasanya ada suara pintu ditutup, tandanya saya bisa buka hp lagi dan lanjut main.
Cara ini gak selalu berhasil, pernah ketahuan gegara selimut saya diperiksa sewaktu tidur. Alhasil hp saya disita sampai keesokan harinya.
Saat ini udah 4 tahun berlalu, masa SMA bener-bener beda kalau dibandingkan dengan masa SD. Dulu ada banyak free time alias waktu bebas yang bisa saya nikmati sesuka hati, karena mulai pelajaran jam 7 pagi, pulangnya jam 12 siang. Singkat banget kan?
Sekarang udah beda tingkatan, beda kurikulum. Memang sih, banyak yang bilang Kurikulum Merdeka itu lebih bebas ketimbang Kurikulum 2013, tapi tugas dalam bentuk proyek terasa lebih banyak.
Mulai pelajaran jam 7 pagi sampai jam setengah 3 sore, itupun kalau gak ada ekstrakurikuler, kalau ada ya bisa sampai malam pulangnya. Belum lagi kalau ada kerja kelompok setelah pulang sekolah buat bikin proyek, waktu istirahat ya pasti menipis. Ketika pulang dari sekolah, badan terasa lemes, gak ada tenaga lagi buat ngelanjutin aktivitas.
Tidur siang yang awalnya adalah hal yang paling saya benci, jadi hal yang paling dibutuhkan. Dikala kelelahan pasca sekolah, tidur siang rasanya buat badan saya fresh. Semangat buat melanjutkan aktivitas di sore hari rasanya berkobar kembali. Meskipun tidur siang sekarang udah gak kayak dulu lagi.
Sebagai bocah kelas 5, kalau tidur siang bisa kapan aja, dan durasi sebebasnya. Sekarang sebelum tidur pasang timer 35 menit dulu, biar nanti tidurnya gak kebablasan. Kalo kebablasan nanti saya bakal ditelpon guru les. Iya bener, saya ada les setelah tidur siang, makanya saya pasang timer.
Ya begitulah curhat singkat saya seputar rutinitas sekolah yang padat ini, sekaligus sedikit menekankan pentingnya tidur siang.
Jadi buat kalian yang punya waktu luang, nikmatilah tidur siang selagi bisa.