• Belajar Tatap Muka

    21 November 2021
    Sekolah
    Gambar lantai 1 sekolah sekarang, sepi karena foto ini diambil ketika temen-temen udah pada pulang.

    Akhir-akhir ini saya tertarik membaca, mendengar, dan menonton kisah orang-orang generasi milenial (lahir tahun 1980–1995) dan Generasi Z awal, tentang kehidupan mereka ketika SMP, SMA. Saat itu Corona belum menjajah dunia.

    Mereka sering bercerita tentang indahnya masa itu, mulai dari kocaknya kelakuan teman-teman, sifat-sifat guru, terlambat ke sekolah, lomba 17 Agustus sekolah, tidur di kelas, seramnya dipanggil guru BK, deg-degan menanti hasil UN, ulang tahun di kelas, dan lainnya.

    Banyak yang bilang masa paling indah di SMP ketika kelas 8. Salah satu alasannya karena kalau kelas 7 masih malu-malu karena baru kenal, kelas 9 sibuk-sibuknya belajar buat ujian dan daftar SMA.

    “Hah, kelas 8? Di mana indahnya?!”

    Begitulah yang ada di benak saya. Bosan, banyak kendala. Pelajaran full online 1 tahun lamanya, tidak ada interaksi langsung sama teman, melulu ikut meeting via Google Meet/Zoom harus buka kamera. Internet lemot pas meeting? Selamat menikmati seni suara patah-patah~

    Sebenarnya masih banyak lagi kendala sekolah online yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya.

    Untungnya 13 September lalu, sekolah berani melakukan pelajaran tatap muka (setelah dapat izin dari pemerintah tentunya). Bisa dibilang telat, karena saya sudah kelas 9, belum sempat merasakan nikmatnya kelas 8 tatap muka. Hehe. Tapi gak apa-apa.

    Kasus Corona sudah turun drastis, banyak teman dan guru sudah vaksin. Apa berati semua boleh masuk?

    Eits….. tidak segampang itu kawan.

    Meskipun boleh, tetap ada aturannya. Corona masih ada, meski kasus turun bisa naik lagi kalau lengah.

    Belajar tatap muka hanya boleh dilaksanakan 3x dalam seminggu (hari Senin, Selasa, Rabu atau Kamis, Jumat). Jam masuk siswa dibagi menjadi 2 shift bedasarkan no. absen, ganjil dan genap untuk menghindari kerumunan. Saat siswa ganjil masuk, siswa genap ikut pelajaran online, begitupun sebaliknya. Saya sendiri absen 4, jadi masuk pada jam genap.

    Peraturan lengkapnya ada di sini:

    Karena waktu jeda pulang-berangkat antara shift 1 (09:30) dan shift 2 (10:00) yang terlalu singkat hanya 30 menit, minggu berikutnya sudah direvisi oleh sekolah jadi 1 jam. Pelajaran dimulai pada shift 2 menjadi jam 10:30. Siswa jadi tidak perlu terburu-buru pulang dan mandi untuk lanjut pelajaran online di rumah, terutama yang rumahnya jauh.

    Saat berangkat sekolah pada shift 1 (07.00–09:30) persiapan yang saya lakukan tak jauh beda seperti sekolah biasa. Bangun jam 05:30, mandi, sarapan, sikat gigi, berangkat. Pulang jam 09:30 langsung mandi, ngemil snack kalau laper, terus lanjut pelajaran jam 10:30 secara online di rumah. Memang yang terbiasa bangun siang harus bisa menyesuaikan diri lagi.

    Kalau berangkat pada shift 2 (10:30–12:30) persiapannya sama, tapi ikut pelajaran online dulu paginya sebelum berangkat jam 10:00. Enaknya bisa bangun lebih siang semisal jam 06:00/06:30.

    Ketika masuk sekolah ada pengecekan suhu tubuh. Yang menarik dari alat pengecekan suhu tubuh ini, selain bisa mendeteksi suhu, juga bisa berbunyi “Suhu anda normal.” jika suhu tubuh kita berada di bawah 38°C. Sejauh ini belum pernah kejadian siswa yang suhu tubuhnya 38°C atau lebih, entah apa jadinya kalau dideteksi alat pengecekan suhu. Apakah nanti menjadi “Suhu anda tidak normal.”?

    Salaman juga tidak boleh, sebagai gantinya cukup dengan melipat kedua tangan atau menundukkan kepala.

    Sekarang, di depan setiap kelas ada tempat cuci tangan. Dulu sebelum pandemi, hanya ada 2 tempat cuci tangan di setiap lantai sekolah, kalau kelasnya ditengah harus pergi ke pojok kiri/kanan sekolah untuk cuci tangan.

    Gambar tempat cuci tangan sekarang, jadi gak perlu ribet lagi pergi ke pojok.

    Semua siswa dan guru wajib pakai masker, selain membantu mencegah virus, jadi kelebihan tersendiri bagi yang merasa mukanya gak good looking karena ketutup masker.

    Di dalam kelas, terdapat hand sanitizer dan buku saku panduan pembelajaran tatap muka di setiap meja siswa. Ruang kelas juga terlihat sangat bersih. Semua fasilitas kelas yang rusak sudah diperbaiki.

    Ketika mengajar para guru harus multitasking, mengajar di sekolah sambil mengajar yang di rumah melalui Google Meet. Teman-teman di sekolah bisa melihat siapa saja teman di rumah yang ikut pelajaran melalui proyektor.

    Biasanya guru menjelaskan materi via PowerPoint yang ditampilkan di proyektor. Guru juga bisa menjelaskan di papan tulis, agar yang di rumah bisa ikut melihat, guru menggunakan kamera lalu diarahkan ke papan tulis seperti ini.

    Saya senang selama Pelajaran Tatap Muka, ada banyak hal positif yang muncul. Pembelajaran sekolah terlihat semakin baik, bisa ketemu teman-teman lagi, guru dan siswa mampu terus beradaptasi, dan tidak ada kasus Corona baru di sekolah selama PTM.

    Semoga tahun depan Corona bisa menghilang sepenuhnya dan bisa belajar bareng teman-teman tanpa adanya pembatasan. Memunculkan kembali makna sekolah yang sebenarnya.

    Tidak ada komentar untuk Belajar Tatap Muka
  • Balik Lagi

    19 Juni 2021
    Updates

    Brandon kemana aja nih? Kok udah gak lama nulis? Ditelan Bumi kah?

    Haha enggak kok… saya masih ada disini. Cuma sempat ada beberapa kegiatan padat yang harus saya jalankan sebagai seorang pelajar.

    Ya semester 2 di setiap jenjang pelajaran memang mulai ribet-ribetnya, karena sudah termasuk persiapan kenaikan kelas. Mulai dari mengikuti PTS hingga PAS dan mengerjakan tagihan tugas. Yang paling berat menurut saya ketika mengerjakan tugas-tugasnya, rasanya lebih banyak aja ketimbang sekolah tatap muka. Fun fact nya, selama di kelas 8 ini full sekolah online, jadi belum ngerasain belajar bareng temen-temen secara ketemuan langsung di sekolah. Ini hal yang wajar, mengingat masih dalam situasi pandemi dan kasus virus COVID-19 di Indonesia lagi meningkat signifikan sampai sekarang.

    Saya waktu itu pernah sampai hampir lupa kalau punya blog, karena ya udah lama gak nulis ini. Coba lihat saja post terakhir, post itu saya upload tanggal 6 Februari 2021. Cukup lama bukan?

    Post terakhir itu juga ketika saya masih menggunakan tampilan blog lama. Sekarang tampilannya sudah baru menjadi lebih minimalis, lebih responsif, dan lebih cantik tentunya. Karena tampilan ini juga blog saya sekarang jadi urutan paling atas kalau kalian cari blog saya di Google. Saya harap kalian suka dengan tampilan baru ini.

    Ngomong-ngomong soal nugas, saya orangnya bukan orang yang ambisius banget atau malas sampai level gak niat ngerjain tugas/ulangan. Meskipun saya pernah dibilang rajin sama temen, tapi ada di suatu masa saya males sampai tugas banyak yang numpuk sampai 10 tugas. Mungkin kalian yang juga pernah sekolah online pernah ngalamin juga. Hehe.

    Yang pasti sekarang semua tugas saya sudah beres, dan udah rapotan juga. Untung sekolah masih memberi banyak kesempatan. Hasilnya? Ya… lumayan lah. Lebih bagus dibanding semester lalu dan naik kelas 9. Kelas terakhir sebelum melanjutkan jenjang SMA. Cepet banget, masih merasa baru masuk kelas 7 aja.

    Ada kabar baik juga nih bagi yang nungguin saya kembali ke dunia Youtube, saya sudah ada rencana bikin konten lagi. Biar kualitasnya ikut meningkat saya juga sudah beli kamera baru. Kebetulan juga adik saya juga beli laptop baru yang speknya lebih bagus dibanding laptop saya, mungkin sementara saya pinjam laptop dia dulu buat edit kontennya. Setelah itu tinggal nyusun ide yang sudah dibuat menjadi sebuah skripsi, dan bisa mulai rekaman. Kalau kalian ada ide konten juga boleh banget tulis di kolom komentar.

    Di post berikutnya saya juga akan membahas tentang project cerita yang akan saya buat di platform lain. Jadi stay tuned untuk perkembangan selanjutnya!

    Tidak ada komentar untuk Balik Lagi
  • Jadi Diri Sendiri

    6 Februari 2021
    Motivasi

    Pernahkah kalian minder dan merasa gak berguna? Mungkin karena kelemahan kita, fisik kita, melihat prestasi orang lain, kesuksesan orang lain, atau kekayaaan orang lain?

    Saya yakin pasti banyak dari kalian yang sudah pernah mengalami. Saya juga sering. Kali ini saya akan menceritakannya.

    Semua berawal ketika saya masih duduk di kelas 1 sampai 3 SD, ketika itu sering diejek beberapa teman tentang fisik. Mulai dari dikatain gendut, males olahraga, rambut kaya landak, sampai saya yang sering disamakan dengan tikus.

    Yup benar, hewan tikus. Hewan jorok yang banyak tinggal di selokan itu.

    Tapi yang paling kerasa impact nya yaitu ketika dikatain gendut. Mulai terlintas di benak saya

    “Iya juga ya, temen lain banyak yang kurus. Kenapa ya aku masih gendut? Kenapa aku gak bisa kurus kaya mereka?”.

    Seperti anak kecil lainnya yang kalau diejek besoknya lupa, saya juga sama. Besoknya mulai semangat lagi deh pergi sekolah.~

    Masalah muncul lagi ketika kelas 7. Sebelum itu udah kenal medsos sejak kelas 5 SD, tapi entah kenapa rasa minder muncul pertama kali ketika kelas 7. Saya sudah banyak follow akun media sosial yang kebanyakan isinya orang terkenal yang akunnya udah centang biru.

    Sudah pasti mereka orang yang sukses and of course punya banyak duit.

    Ada yang foto liburan ke Jepang. Ada yang keterima di sekolah bergengsi seperti di St. Louis, Mountain View, BPK Penabur. Ada yang Foto dikaca pakai iPhone, seakan ada pesan tersirat didalamnya “Ini lho, hp orang kaya itu kaya gini dong.”. Ada juga yang usianya sama seperti saya tapi udah jadi sukses dan kaya raya, dan masih banyak lagi.

    Itu doang yang buat minder? Jelas enggak.

    Di sekolah ada murid yang selalu di peringkat teratas dalam prestasi akademis, ada juga prestasi dalam bidang olahraga seperti Tae Kwon Do, basket, renang, badminton.

    Impactnya? Pikiran-pikiran negatif mulai muncul lagi,

    “Kenapa aku gak bisa sukses kaya mereka?’’

    “Kapan ya aku bisa pintar olahraga?”

    “Kok bisa mereka berprestasi, tapi aku enggak?”

    Pikiran-pikiran itu membuat prestasi kelas 7 menurun dan keterusan sampai kelas 8 Semester 1. Jadinya, saya udah merasa seperti sampah, udah gak ada harapan, juga gak jarang buat kelebihan yang saya punya seperti gak guna lagi.

    Setelah itu saya sadar, kalo dibiarin kelamaan enggak baik buat kesehatan mental, setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Bunga tidak mekar secara bersamaan, dalam artian setiap orang tidak sukses dengan waktu yang sama melainkan dengan proses dan cara yang berbeda. Siapa tahu kita dapat sukses dengan cara kita sendiri. Who knows?

    Foto mereka yang di media sosial pastinya dipilih mana yang bagus sebelum diposting. Foto-foto di medsos nggak menjamin orang tersebut bahagia. Bisa saja ada kesedihan dibalik foto tersebut yang tidak kita tahu.

    Pelajaran berhaga yang saya ambil disini yaitu bersyukur, dan menjadi diri sendiri. Bersyukur apa yang kita punya sekarang. Jadi diri sendiri tanpa banyak menuruti apa kata orang. Karena selalu mengikuti orang lain akan terus membuat kita merasa kekurangan.

    Tentu boleh membandingkan diri dengan orang lain, namun jangan sampai membuat diri kita minder dan insecure. Jadikan sebagai motivasi agar bisa lebih baik lagi.

    Karena itu konsep pemikiran saya mulai berubah. Akhirnya saya udah semangat lagi menjalani hari-hari saya sebagai pelajar.

    Jadi buat kalian yang sedang minder, putus asa karena melihat keberhasilan orang lain seperti saya dulu. Yuk, mulai sekarang jadi diri sendiri, dan fokus mengembangkan kelebihan yang kita punya.

    “Be yourself, be the best version of you, do what you love, and love what you do.”

    Tidak ada komentar untuk Jadi Diri Sendiri
  • Waktu Terasa Begitu Cepat

    4 Desember 2020
    Sekolah

    Akhirnya Penilaian Akhir Semester (PAS) I di sekolah saya sudah selesai, meski agak kecewa karena ada satu mata pelajaran yang nilainya dibawah KKM, yaitu pelajaran Olahraga yang dapetin nilai 55. Tapi ya udah terlanjur mau gimana lagi? Yang penting itu jadi motivasi buat saya agar saya dapat ningkatin nilai lebih bagus lagi kedepannya. Sekarang waktunya chill sejenak, dan lanjut buat blog lagi.

    Kalau dipikir-pikir, gak terasa sekarang sudah masuk bulan Desember, yang artinya sebentar lagi hari raya Natal, dan tahun baru akan segera tiba. Gak terasa juga kira-kira sudah 8 bulan saya, dan teman-teman pelajar lainnya di seluruh Indonesia sudah melakukan pembelajaran secara online.

    Jadi keinget pas sekolah ngumumin pembelajaran akan dilakukan secara online tanggal 15 Maret lalu. Awalnya sih seneng banget pas dengerin kabar itu, karena udah bayangin enaknya sekolah sambil rebahan dikasur. Tapi lama kelamaan ya bosen juga. Makin lama malah jadi kangen ketemu sama temen-temen di sekolah. Ditambah tugas yang semakin banyak, dan koneksi internet dirumah yang selalu bikin emosi. Untungnya semua hal tadi sudah makin terbiasa berkat dukungan dari guru, dan ortu. Saya juga ingin terima kasih kepada Pemerintah yang bersedia memberi bantuan kuota gratis kepada saya, dan juga banyak pelajar di seluruh Indonesia.

    Masalah lain yang muncul sejak pandemi ini ya kehidupan jadi gak produktif. Kerjaannya setiap hari cuma rebahan, ngerjain tugas, belajar, makan, dan tidur. Maka itu saya coba untuk belajar gitar dengan mengikuti kursus musik, dan juga saya memulai membuka usaha toko online baru yang bernama Ventura Online Store Salatiga yang saya dirikan tanggal 18 November lalu.

    Rencana kedepannya mungkin saya akan lanjut meningkatkan kualitas toko online saya, dan membuat konten baru lagi di channel YouTube saya, karena sudah terpikirkan idenya. Jadi tungguin aja, siapa tahu setelah kalian baca post ini videonya udah tayang.

    Waktu terasa begitu cepat.

    Tidak ada komentar untuk Waktu Terasa Begitu Cepat

Jangan lupa bahagia~

Brandon Prajogo

Personal Blog

    • Tentang