Setelah kurang lebih seminggu, akhirnya tanggal 14 kemarin Ujian Sekolah usai juga. Hal ini menandakan tamatnya masa hidupku dijenjang SMA, dan memasuki jenjang baru.
Jenjang baru ini berbeda-beda bagi setiap orang, ada yang lanjut kuliah, ada yang langsung kerja, ada yang mengabdi untuk negara dengan bergabung ke kedinasan, ada juga yang memilih untuk gap year.
Aku percaya setiap orang memiliki jenjang baru sendiri, sehingga apapun jenjang yang kamu pilih tidak ada yang salah.
Pada artikel ini aku enggak ingin cerita tentang jenjang baru yang aku pilih, karena itu akan aku ceritakan dilain waktu. Namun, aku ingin kalian menonton satu video YouTube insipatif yang pernah aku tonton dua tahun lalu. Silahkan klik video di bawah.
Semoga kalian dapat mengambil hikmah yang ada pada video tersebut, terutama untuk kalian yang juga baru saja menamatkan jenjang putih abu-abu. Tetap semangat, dan selamat melanjutkan aktivitas~
Gambar 1: POPSILA Day 6 (Persiapan Community Building) — July 16, 2022
Gak terasa sudah 1 bulan lebih absen upload blog. Kira-kira kenapa ya? Lulus atau enggak nih???
Bentar-bentar, jadi gini…
Sebenernya masih belum tahu bakal lulus beneran atau enggak, sampai tanggal 15 Juni.
Yup, pengumuman kelulusan diumumkan pas acara Wasana Warsa. Untungnya semua murid lulus, termasuk saya. Terima kasih banyak buat para guru dan teman-teman selama perjalanan 3 tahun terakhir.
Seperti yang saya ceritakan dipost sebelumnya, setelah lulus saya akan melanjutkan jenjang SMA di luar kota, tepatnya di SMA Kolese Loyola Semarang. Jadi mulai tanggal 6 Juli sudah nyiapin barang-barang dan tanggal 7 mulai pindah ke kos.
Sama seperti sekolah lain yang punya singkatan, sekolah saya juga punya. Orang-orang biasanya manggil dengan sebutan Loyola atau Loyola College (LC). Berhubung ini sekolah Katolik, namanya diambil dari santo pelindungnya yaitu St. Ignasius dari Loyola.
Saya mulai masuk sekolah untuk pertama kali pada tanggal 8 Juli dengan mengikuti kegiatan semacam pengenalan lingkungan sekolah. Uniknya jika di sekolah lain masa pengenalan ini singkatannya MPLS dan di Kampus/Universitas disingkat OSPEK, di Loyola disingkat POPSILA (Pekan Orientasi dan Pengenalan bagi Siswa-Siswi SMA Kolese Loyola). Tema tahun ini yaitu “Magis for Human Excellence”. Kegiatan POPSILA berlangsung selama 2 minggu.
Selama POPSILA, satu angkatan dibagi menjadi 23 kelompok, beberapa diantaranya yaitu kelompok Jay, Bobadilla, Xavier, Laynez, Broet, Rodriguez, dll. Saya masuk di kelompok Salmeron. Setiap harinya terbagi menjadi 3 sesi yaitu Sesi Eksekutif, Sesi Fasilitator, dan Sesi Angelus.
Sesi Eksekutif berisi tentang sosialisasi umum tentang Loyola seperti Kurikulum, Peraturan sekolah, Kelengkapan Pendidikan, Bursa Informasi Pendidikan Tinggi. Sesi Fasilitator berisi tentang pembinaan dan Ice breaking (kegiatan mencairkan suasana dengan permainan) dari guru pendamping. Sesi Angelus berisi tentang kegiatan Ice breaking dari pemimpin kelompok yang disebut Angelus.
Berikut ini foto-foto keseruannya:
Gambar 2: POPSILA Day 2 (Belajar Menjadi Generasi Yang Berkompeten) — July 12, 2022Gambar 3: POPSILA Day 7 (Community Building) — July 18, 2022Gambar 4: POPSILA Day 8 (Membuat Pohon Komitmen) — July 19, 2022Gambar 5: POPSILA Day 8 (Foto Bersama) — July 19, 2022Gambar 6: Foto bersama koloni setelah upacara — August 17, 2022Gambar 7: Foto Bersama Kelas — August 17, 2022
Setelah mengikuti kegiatan POPSILA, saya ikut upacara dan lanjut pelajaran seperti biasa. Terdapat 10 kelas dari X-A hingga X-J, saya termasuk di kelas X-I. Senang rasanya bisa berkenalan dengan para guru dan teman baru, karena pertama kalinya berinteraksi dengan orang-orang baru semenjak pandemi. Setiap berkenalan dan mengobrol membantu saya untuk bersosialisasi dan membuka ruang diskusi.
Setelah pelajaran selesai, saya lihat banyaknya kegiatan di luar pembelajaran seperti latihan Gamelan Soepra, ekstrakuriker dan lomba. Setiap kegiatan juga diberi fasilitas yang keren dari sekolah, dan sekolah masih buka saat malam. Menurut saya, ini penting untuk mengembangkan potensi/minat setiap murid.
Berhubung masih siswa baru, tentunya diberikan pilihan untuk memilih Ekskul. Ketika itu saya pilih Bulutangkis dan Komputer Program, disinilah pengalaman kurang menyenangkan pertama terjadi. Karena banyak yang ikut Bulutangkis, jadinya terpaksa seleksi.
Seleksi Bulutangkis sebenarnya cukup simpel, yaitu dengan melakukan servis dengan menghabiskan beberapa kok yang sudah disediakan. Sayangnya, saya tidak berhasil diterima dan harus pindah di ekskul olahraga lain. Kecewa memang, rasanya seperti diremehkan. Untungnya saya keterima di ekskul Tennis Lapangan yang gak kalah seru juga dengan Bulutangkis.
Terus Ekskul Komputer Program juga ada seleksi gak Brand? Tentu ada dong… lagi-lagi karena yang daftar banyak.
Seleksi Komputer Program sebenarnya lebih mudah dibanding Bulutangkis. Hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan di selembar kertas, intinya berisi tentang pengalaman pribadi seputar teknologi/IT jadi bisa dijawab dengan mudah tanpa perlu buka internet. Minggu depannya, diumumkan peserta yang lolos seleksi Komputer Program dan saya salah satunya.
Berbeda dengan rumah sendiri, selama di kos saya belajar untuk menentukan semua keputusan secara mandiri, mulai dari tugas, keuangan, dan management waktu. Jujur saja ini bukanlah hal yang mudah, mengingat saya dari dulu adalah anak rumahan yang setiap keputusan dibantu dengan orang tua. Tapi makin lama mulai bisa beradaptasi, yang penting ada niatnya.
Jadi, selamat datang di dunia yang baru. Dunia baru, kebiasaan baru, dan tanggung jawab baru.
Ujian, Lulus, SMA. Tiga kata yang ada di benak saya dan kawan-kawan kelas 9. Kata yang sama sekali gak enteng. Keteteran belajar buat ujian sekolah yang materinya banyak bener. Dilanjut ujian praktik sehari setelah ujian sekolah. Iya gak salah dengar kok, habis ujian sekolah udah disuruh ujian praktik, rasanya gak ada jeda sama sekali.
Sekarang udah selesai dan bisa nulis blog lagi. Malah banyak liburnya, sedangkan adik kelas masih penilaian akhir tahun. Masih belum ada pengumuman lulus sih, karena bakal diumumin di acara Wasana Warsa tanggal 15 Juni nanti. Doa-kan aja semoga lulus.
Sempet mikir semua temen juga bakal lulus, karena pernah dulu pas SD ada temen-temen yang males, tugas banyak yang kosong, atitudenya sama sekali gak baik sampe aku ikutan mikir “Ni anak apa bakal lulus sih?” ternyata mereka ya lulus-lulus aja. Palingan buat yang nilainya jelek dan kalau sifatnya masih keterusan bakalan susah cari SMA/SMK, mengingat syarat diterimanya lebih berat dibanding pendaftaran SMP.
Ngomong-ngomong soal SMA, ternyata banyak yang udah buka pendaftaran, bahkan sejak saya masih Semester 1. Ada temen-temen yang daftar di sekolah negeri atau swasta, ada yang daftar di SMA atau SMK. Pilihan mereka gak ada yang salah, karena setiap orang punya tujuannya masing-masing, termasuk dalam memilih jenjang pendidikan.
Kalau saya pilih sekolah di luar kota, tepatnya di SMA Kolese Loyola. Proses daftarnya cukup susah karena ada 2 jalur yaitu Jalur Prestasi dan Jalur Tes. Untungnya berhasil keterima. Memang usaha tidak mengkhianati hasil.
Banyak temen dan guru yang heran kenapa saya milih di situ dan gak yang deket-deket aja, mengingat lokasinya yang di luar kota. Ada banyak alasannya, mulai karena sekolahnya yang bagus, pengen mandiri, bentuk jaringan, dll. Namun tujuannya tetap satu:
Keluar dari zona nyaman.
Selama saya di rumah merasa udah nyaman banget, kalau ke sekolah selalu diantar meski deket, banyak kenalan, udah familiar sama nama jalan dan tempat. Kalau ada masalah? Orang tua siap bantuin. Tapi ya karena itu, sifat negatif seperti malas, mendunda-nunda, dan nggampangake sering muncul.
Makanya saya pilih sekolah di luar kota. Jaraknya yang jauh dari rumah, ya mau/gak mau harus nge-kost buat melatih kemandirian, karena termasuk sekolah favorit jadi harus belajar yang rajin supaya gak keteteran lagi seperti dulu pas SMP, bisa buat jaringan, dan ikut banyak kegiatan.
Bukan berarti kalau mau keluar dari zona nyaman harus sekolah diluar kota, zona nyaman tiap orang beda-beda. Banyak juga temenku yang sekolah di dalam kota tapi orangnya mandiri, rajin, punya banyak kegiatan dan jaringan.
Namun yang terpenting dan banyak juga yang nanya, “Kamu udah siap Brand?”
Gambar lantai 1 sekolah sekarang, sepi karena foto ini diambil ketika temen-temen udah pada pulang.
Akhir-akhir ini saya tertarik membaca, mendengar, dan menonton kisah orang-orang generasi milenial (lahir tahun 1980–1995) dan Generasi Z awal, tentang kehidupan mereka ketika SMP, SMA. Saat itu Corona belum menjajah dunia.
Mereka sering bercerita tentang indahnya masa itu, mulai dari kocaknya kelakuan teman-teman, sifat-sifat guru, terlambat ke sekolah, lomba 17 Agustus sekolah, tidur di kelas, seramnya dipanggil guru BK, deg-degan menanti hasil UN, ulang tahun di kelas, dan lainnya.
Banyak yang bilang masa paling indah di SMP ketika kelas 8. Salah satu alasannya karena kalau kelas 7 masih malu-malu karena baru kenal, kelas 9 sibuk-sibuknya belajar buat ujian dan daftar SMA.
“Hah, kelas 8? Di mana indahnya?!”
Begitulah yang ada di benak saya. Bosan, banyak kendala. Pelajaran full online 1 tahun lamanya, tidak ada interaksi langsung sama teman, melulu ikut meeting via Google Meet/Zoom harus buka kamera. Internet lemot pas meeting? Selamat menikmati seni suara patah-patah~
Sebenarnya masih banyak lagi kendala sekolah online yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya.
Untungnya 13 September lalu, sekolah berani melakukan pelajaran tatap muka (setelah dapat izin dari pemerintah tentunya). Bisa dibilang telat, karena saya sudah kelas 9, belum sempat merasakan nikmatnya kelas 8 tatap muka. Hehe. Tapi gak apa-apa.
Kasus Corona sudah turun drastis, banyak teman dan guru sudah vaksin. Apa berati semua boleh masuk?
Eits….. tidak segampang itu kawan.
Meskipun boleh, tetap ada aturannya. Corona masih ada, meski kasus turun bisa naik lagi kalau lengah.
Belajar tatap muka hanya boleh dilaksanakan 3x dalam seminggu (hari Senin, Selasa, Rabu atau Kamis, Jumat). Jam masuk siswa dibagi menjadi 2 shift bedasarkan no. absen, ganjil dan genap untuk menghindari kerumunan. Saat siswa ganjil masuk, siswa genap ikut pelajaran online, begitupun sebaliknya. Saya sendiri absen 4, jadi masuk pada jam genap.
Peraturan lengkapnya ada di sini:
Karena waktu jeda pulang-berangkat antara shift 1 (09:30) dan shift 2 (10:00) yang terlalu singkat hanya 30 menit, minggu berikutnya sudah direvisi oleh sekolah jadi 1 jam. Pelajaran dimulai pada shift 2 menjadi jam 10:30. Siswa jadi tidak perlu terburu-buru pulang dan mandi untuk lanjut pelajaran online di rumah, terutama yang rumahnya jauh.
Saat berangkat sekolah pada shift 1 (07.00–09:30) persiapan yang saya lakukan tak jauh beda seperti sekolah biasa. Bangun jam 05:30, mandi, sarapan, sikat gigi, berangkat. Pulang jam 09:30 langsung mandi, ngemil snack kalau laper, terus lanjut pelajaran jam 10:30 secara online di rumah. Memang yang terbiasa bangun siang harus bisa menyesuaikan diri lagi.
Kalau berangkat pada shift 2 (10:30–12:30) persiapannya sama, tapi ikut pelajaran online dulu paginya sebelum berangkat jam 10:00. Enaknya bisa bangun lebih siang semisal jam 06:00/06:30.
Ketika masuk sekolah ada pengecekan suhu tubuh. Yang menarik dari alat pengecekan suhu tubuh ini, selain bisa mendeteksi suhu, juga bisa berbunyi “Suhu anda normal.” jika suhu tubuh kita berada di bawah 38°C. Sejauh ini belum pernah kejadian siswa yang suhu tubuhnya 38°C atau lebih, entah apa jadinya kalau dideteksi alat pengecekan suhu. Apakah nanti menjadi “Suhu anda tidak normal.”?
Salaman juga tidak boleh, sebagai gantinya cukup dengan melipat kedua tangan atau menundukkan kepala.
Sekarang, di depan setiap kelas ada tempat cuci tangan. Dulu sebelum pandemi, hanya ada 2 tempat cuci tangan di setiap lantai sekolah, kalau kelasnya ditengah harus pergi ke pojok kiri/kanan sekolah untuk cuci tangan.
Gambar tempat cuci tangan sekarang, jadi gak perlu ribet lagi pergi ke pojok.
Semua siswa dan guru wajib pakai masker, selain membantu mencegah virus, jadi kelebihan tersendiri bagi yang merasa mukanya gak good looking karena ketutup masker.
Di dalam kelas, terdapat hand sanitizer dan buku saku panduan pembelajaran tatap muka di setiap meja siswa. Ruang kelas juga terlihat sangat bersih. Semua fasilitas kelas yang rusak sudah diperbaiki.
Ketika mengajar para guru harus multitasking, mengajar di sekolah sambil mengajar yang di rumah melalui Google Meet. Teman-teman di sekolah bisa melihat siapa saja teman di rumah yang ikut pelajaran melalui proyektor.
Biasanya guru menjelaskan materi via PowerPoint yang ditampilkan di proyektor. Guru juga bisa menjelaskan di papan tulis, agar yang di rumah bisa ikut melihat, guru menggunakan kamera lalu diarahkan ke papan tulis seperti ini.
Saya senang selama Pelajaran Tatap Muka, ada banyak hal positif yang muncul. Pembelajaran sekolah terlihat semakin baik, bisa ketemu teman-teman lagi, guru dan siswa mampu terus beradaptasi, dan tidak ada kasus Corona baru di sekolah selama PTM.
Semoga tahun depan Corona bisa menghilang sepenuhnya dan bisa belajar bareng teman-teman tanpa adanya pembatasan. Memunculkan kembali makna sekolah yang sebenarnya.
Akhirnya Penilaian Akhir Semester (PAS) I di sekolah saya sudah selesai, meski agak kecewa karena ada satu mata pelajaran yang nilainya dibawah KKM, yaitu pelajaran Olahraga yang dapetin nilai 55. Tapi ya udah terlanjur mau gimana lagi? Yang penting itu jadi motivasi buat saya agar saya dapat ningkatin nilai lebih bagus lagi kedepannya. Sekarang waktunya chill sejenak, dan lanjut buat blog lagi.
Kalau dipikir-pikir, gak terasa sekarang sudah masuk bulan Desember, yang artinya sebentar lagi hari raya Natal, dan tahun baru akan segera tiba. Gak terasa juga kira-kira sudah 8 bulan saya, dan teman-teman pelajar lainnya di seluruh Indonesia sudah melakukan pembelajaran secara online.
Jadi keinget pas sekolah ngumumin pembelajaran akan dilakukan secara online tanggal 15 Maret lalu. Awalnya sih seneng banget pas dengerin kabar itu, karena udah bayangin enaknya sekolah sambil rebahan dikasur. Tapi lama kelamaan ya bosen juga. Makin lama malah jadi kangen ketemu sama temen-temen di sekolah. Ditambah tugas yang semakin banyak, dan koneksi internet dirumah yang selalu bikin emosi. Untungnya semua hal tadi sudah makin terbiasa berkat dukungan dari guru, dan ortu. Saya juga ingin terima kasih kepada Pemerintah yang bersedia memberi bantuan kuota gratis kepada saya, dan juga banyak pelajar di seluruh Indonesia.
Masalah lain yang muncul sejak pandemi ini ya kehidupan jadi gak produktif. Kerjaannya setiap hari cuma rebahan, ngerjain tugas, belajar, makan, dan tidur. Maka itu saya coba untuk belajar gitar dengan mengikuti kursus musik, dan juga saya memulai membuka usaha toko online baru yang bernama Ventura Online Store Salatiga yang saya dirikan tanggal 18 November lalu.
Rencana kedepannya mungkin saya akan lanjut meningkatkan kualitas toko online saya, dan membuat konten baru lagi di channel YouTube saya, karena sudah terpikirkan idenya. Jadi tungguin aja, siapa tahu setelah kalian baca post ini videonya udah tayang.