Skip to content
  • Kok Jarang Main Game?

    14 October 2022
    Teknologi

    Sejak saya masih kelas 7 sampai sekarang, saya kerap ditanya oleh teman yang kurang lebih begini:

    “Bran, di hp-mu ada game apa aja?”

    Saya langsung menunjukan daftar aplikasi yang saya punya, dan di situ hanya terdapat game Crossy Road dan slither.io. Iya bener, kalian gak salah dengar. Saya cuma punya 2 game di hp saya.

    Ehh lupa, sama 1 lagi game Dino di browser Google Chrome (game dinosaurus yang loncat-loncat itu lho, yang biasa dimainin pas gak ada internet).

    Karena gamenya sedikit, dan ketiganya jarang, atau bahkan tidak pernah dimainkan oleh teman-teman saya, alhasil saya tidak pernah diajak mabar sewaktu jam istirahat sekolah atau pas kumpul bareng teman-teman kos.

    Memang aneh rasanya sebagai laki-laki, jenis kelamin yang sering dikaitkan suka nonton bola dan pastinya main game. Tapi saya sendiri jarang main game, gak suka nonton bola, dan gak ngikutin dunia olahraga. Itu juga menjadi penyebab saya sering gak tahu tragedi, atau kasus yang terjadi dalam dunia olahraga seperti misalnya Tragedi Kanjuruhan (sekarang jadi tahu karena kejadian ini dibicarakan sama banyak orang, sampai masuk ke ranah hukum).

    Sekarang balik lagi ke topik. Saking cueknya dengan game, ketika saya menghapus seluruh data di hp akibat kesalahan dalam mengoprek, saya sering lupa install ulang ketiga game tersebut. Jadi sebenarnya saya bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa meskipun sama sekali tidak ada game.

    Kalau lagi istirahat, banyak yang menghabisin waktu luangnya dengan main game dengan alasan biar rileks. Saya sangat tidak setuju dengan hal ini, memang bermain game bisa bikin rileks kalau menang pada game tersebut. Terus kalau kalah? Pastinya malah emosi kan? Kata-kata kasar juga sering kali terucap, bahkan ada orang yang banting hp mereka hanya gara-gara kalah. Ini alasan pertama saya jarang main game.

    Kedua soal Biaya. Ini tergantung gamenya sih, kalau kalian juga hanya main game seperti Crossy Road, slither.io, dan sejenisnya kalian bisa mainkan secara gratis dan gak perlu spek yang tinggi.

    Beda cerita kalau yang kalian mainkan adalah Genshin Impact, PUBG, dan sejenisnya yang itemnya ada yang berbayar. Ini belum juga sama biaya hardware yang kalian pakai. Kalau mau mainnya enak minimal pakai smartphone yang harganya menengah, atau bahkan yang harganya mahal biar perfomanya maksimal. Kalian juga harus beli hp baru tiap 2 tahun sekali kalau mau mempertahankan kelancarannya, dibanding orang yang pakai hp bukan untuk main game bisa sampai 3 tahun lebih.

    Hal yang paling saya benci dari game-game berat karena ukuran filenya yang gak masuk akal. Sebagai contoh Genshin Impact, kalau kalian lihat di Play Store ukuran game tersebut memang cuma 228 MB, tapi setelah install Genshin Impact, mereka bakal download file tambahan yang ukurannya 20 GB lebih.

    Masih kurang gila? Mari kita coba lihat game-game yang ada di PC.

    Saya ambil contoh Call of Duty, yang system requirementsnya sebagai berikut:

    OS: Windows 10 64-bit (v.1709 or higher)
    CPU: Intel Core i3–4340 or AMD FX-6300
    RAM: 8GB RAM
    HDD: 246GB space
    Video: NVIDIA GeForce GTX 670 / GeForce GTX 1650 or Radeon HD 7950
    DirectX: Requires DirectX 12 compatible system
    Network: Broadband Internet connection
    Sound Card: DirectX Compatible

    Ini baru minimum system requirements, yang artinya spek minimal yang kalian butuhkan untuk main game tersebut. Namanya juga minimal, yang berarti dengan spek tersebut belum tentu bisa bermain dengan lancar. Kalau dilihat syarat CPU dan GPU (Video) gak begitu mahal, namun saya gak habis pikir harus meluangkan 246GB storage kita sebagai syarat minimum. Kalau mau lancar coba cek competitive system requirements sebagai berikut:

    OS: Windows 10 64 Bit (latest update)
    CPU: Intel i7–8700K or AMD Ryzen 1800X
    RAM: 16GB RAM
    HDD: 246GB space
    Video: NVIDIA GeForce GTX 1080 / RTX 2070 SUPER or Radeon RX Vega64 Graphics
    DirectX: Requires DirectX 12 compatible system
    Network: Broadband Internet connection
    Sound Card: DirectX Compatible

    Nah loh, itu spek yang dibutuhin biar lancar. Kalau mau yang paling lancar, sampai bisa main di FPS paling tinggi di resolusi 4K, kira-kira butuh spek begini:

    OS: Windows 10 64-bit (latest update)
    CPU: Intel i7–9700K or AMD Ryzen 2700X
    RAM: 16GB RAM
    HDD: 246GB HD space
    Video: NVIDIA GeForce RTX 2080 SUPER
    DirectX: Version 11.0 compatible video card or equivalent
    Network: Broadband Internet connection
    Sound Card: DirectX Compatible

    Semua spesifikasi yang saya jelaskan tadi akan mulai terasa usang hanya dengan waktu 2–5 tahun saja. Sebagai anak kos yang dananya terbatas, saya masih belum mampu mengeluarkan uang untuk merakit pc meskipun pakai syarat minimum dari Call of Duty, apalagi kalau rutin ganti komponen setiap 2–5 tahun sekali. Jika budget kalian cukup, hal ini tidak akan menjadi masalah.

    Ketiga soal manajemen waktu yang masih payah. Padatnya agenda di sekolah saya seperti penugasan, ulangan, dan acara membuat pilihan bermain game bukan pilihan yang bijak, karena bisa menjerumuskan prestasi saya. Tentu tidak semua orang seperti ini, saya juga pernah menemukan teman yang sering main game namun prestasinya tetap salah satu yang terbaik di sekolah berkat manajemen waktu yang bagus.

    Karena saya jarang bermain game, penggunaan hp saya gunakan sebagai sarana komunikasi via sosmed ijo alias WhatsApp. Gak mungkin kan komunikasi jarak jauh sama crush kalian masih pakai surat?

    Sistem pembelajaran di sekolah saya menggunakan Google Classroom untuk pengumpulan tugas, ngisi Google Form, dan Zoom buat meeting online. Meskipun meeting online sekarang sudah jarang karena pandemi sudah gak sebrutal dulu, tapi gak ada salahnya kan buat jaga-jaga? Selain itu hp juga saya gunakan untuk main sosmed lain seperti YouTube, Instagram dan Twitter.

    Untuk laptop, biasa saya gunakan untuk coding dengan aplikasi Visual Studio Code dan Notepad++, buat tugas sekolah seperti ngetik dokumen di Word/Docs, buat presentasi di PowerPoint/Canva dan Pengolahan Data di Excel/Spreadsheet. Saya juga gunakan laptop buat nonton YouTube, dan terakhir buat bikin blog ini.

    Kembali ke diri masing-masing, saya tahu setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Jika kalian merasa 3 alasan tidak bermain game tadi gak relevan bagi kalian, maka sah-sah saja untuk lanjutkan hobi kalian bermain game. Jangan salah, bermain game juga ada hal positif yang bisa didapat.

    Kalau kalian masih memiliki masalah akibat bermain game, kalian tidak harus meninggalkan game favorit kalian. Karena yang terpenting adalah soal manajemen waktu, tahu kapan saatnya main game, dan tahu kapan saatnya belajar/bekerja.

    5 comments on Kok Jarang Main Game?
  • Dunia Baru

    17 August 2022
    Sekolah
    Gambar 1: POPSILA Day 6 (Persiapan Community Building) — July 16, 2022

    Gak terasa sudah 1 bulan lebih absen upload blog. Kira-kira kenapa ya? Lulus atau enggak nih???

    Bentar-bentar, jadi gini…

    Sebenernya masih belum tahu bakal lulus beneran atau enggak, sampai tanggal 15 Juni.

    Yup, pengumuman kelulusan diumumkan pas acara Wasana Warsa. Untungnya semua murid lulus, termasuk saya. Terima kasih banyak buat para guru dan teman-teman selama perjalanan 3 tahun terakhir.

    Seperti yang saya ceritakan dipost sebelumnya, setelah lulus saya akan melanjutkan jenjang SMA di luar kota, tepatnya di SMA Kolese Loyola Semarang. Jadi mulai tanggal 6 Juli sudah nyiapin barang-barang dan tanggal 7 mulai pindah ke kos.

    Sama seperti sekolah lain yang punya singkatan, sekolah saya juga punya. Orang-orang biasanya manggil dengan sebutan Loyola atau Loyola College (LC). Berhubung ini sekolah Katolik, namanya diambil dari santo pelindungnya yaitu St. Ignasius dari Loyola.

    Saya mulai masuk sekolah untuk pertama kali pada tanggal 8 Juli dengan mengikuti kegiatan semacam pengenalan lingkungan sekolah. Uniknya jika di sekolah lain masa pengenalan ini singkatannya MPLS dan di Kampus/Universitas disingkat OSPEK, di Loyola disingkat POPSILA (Pekan Orientasi dan Pengenalan bagi Siswa-Siswi SMA Kolese Loyola). Tema tahun ini yaitu “Magis for Human Excellence”. Kegiatan POPSILA berlangsung selama 2 minggu.

    Selama POPSILA, satu angkatan dibagi menjadi 23 kelompok, beberapa diantaranya yaitu kelompok Jay, Bobadilla, Xavier, Laynez, Broet, Rodriguez, dll. Saya masuk di kelompok Salmeron. Setiap harinya terbagi menjadi 3 sesi yaitu Sesi Eksekutif, Sesi Fasilitator, dan Sesi Angelus.

    Sesi Eksekutif berisi tentang sosialisasi umum tentang Loyola seperti Kurikulum, Peraturan sekolah, Kelengkapan Pendidikan, Bursa Informasi Pendidikan Tinggi. Sesi Fasilitator berisi tentang pembinaan dan Ice breaking (kegiatan mencairkan suasana dengan permainan) dari guru pendamping. Sesi Angelus berisi tentang kegiatan Ice breaking dari pemimpin kelompok yang disebut Angelus.

    Berikut ini foto-foto keseruannya:

    Gambar 2: POPSILA Day 2 (Belajar Menjadi Generasi Yang Berkompeten) — July 12, 2022
    Gambar 3: POPSILA Day 7 (Community Building) — July 18, 2022
    Gambar 4: POPSILA Day 8 (Membuat Pohon Komitmen) — July 19, 2022
    Gambar 5: POPSILA Day 8 (Foto Bersama) — July 19, 2022
    Gambar 6: Foto bersama koloni setelah upacara — August 17, 2022
    Gambar 7: Foto Bersama Kelas — August 17, 2022

    Setelah mengikuti kegiatan POPSILA, saya ikut upacara dan lanjut pelajaran seperti biasa. Terdapat 10 kelas dari X-A hingga X-J, saya termasuk di kelas X-I. Senang rasanya bisa berkenalan dengan para guru dan teman baru, karena pertama kalinya berinteraksi dengan orang-orang baru semenjak pandemi. Setiap berkenalan dan mengobrol membantu saya untuk bersosialisasi dan membuka ruang diskusi.

    Setelah pelajaran selesai, saya lihat banyaknya kegiatan di luar pembelajaran seperti latihan Gamelan Soepra, ekstrakuriker dan lomba. Setiap kegiatan juga diberi fasilitas yang keren dari sekolah, dan sekolah masih buka saat malam. Menurut saya, ini penting untuk mengembangkan potensi/minat setiap murid.

    Berhubung masih siswa baru, tentunya diberikan pilihan untuk memilih Ekskul. Ketika itu saya pilih Bulutangkis dan Komputer Program, disinilah pengalaman kurang menyenangkan pertama terjadi. Karena banyak yang ikut Bulutangkis, jadinya terpaksa seleksi.

    Seleksi Bulutangkis sebenarnya cukup simpel, yaitu dengan melakukan servis dengan menghabiskan beberapa kok yang sudah disediakan. Sayangnya, saya tidak berhasil diterima dan harus pindah di ekskul olahraga lain. Kecewa memang, rasanya seperti diremehkan. Untungnya saya keterima di ekskul Tennis Lapangan yang gak kalah seru juga dengan Bulutangkis.

    Terus Ekskul Komputer Program juga ada seleksi gak Brand? Tentu ada dong… lagi-lagi karena yang daftar banyak.

    Seleksi Komputer Program sebenarnya lebih mudah dibanding Bulutangkis. Hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan di selembar kertas, intinya berisi tentang pengalaman pribadi seputar teknologi/IT jadi bisa dijawab dengan mudah tanpa perlu buka internet. Minggu depannya, diumumkan peserta yang lolos seleksi Komputer Program dan saya salah satunya.

    Berbeda dengan rumah sendiri, selama di kos saya belajar untuk menentukan semua keputusan secara mandiri, mulai dari tugas, keuangan, dan management waktu. Jujur saja ini bukanlah hal yang mudah, mengingat saya dari dulu adalah anak rumahan yang setiap keputusan dibantu dengan orang tua. Tapi makin lama mulai bisa beradaptasi, yang penting ada niatnya.

    Jadi, selamat datang di dunia yang baru. Dunia baru, kebiasaan baru, dan tanggung jawab baru.

    2 comments on Dunia Baru
  • Aku Siap!

    1 June 2022
    Sekolah

    Ujian, Lulus, SMA. Tiga kata yang ada di benak saya dan kawan-kawan kelas 9. Kata yang sama sekali gak enteng. Keteteran belajar buat ujian sekolah yang materinya banyak bener. Dilanjut ujian praktik sehari setelah ujian sekolah. Iya gak salah dengar kok, habis ujian sekolah udah disuruh ujian praktik, rasanya gak ada jeda sama sekali.

    Sekarang udah selesai dan bisa nulis blog lagi. Malah banyak liburnya, sedangkan adik kelas masih penilaian akhir tahun. Masih belum ada pengumuman lulus sih, karena bakal diumumin di acara Wasana Warsa tanggal 15 Juni nanti. Doa-kan aja semoga lulus.

    Sempet mikir semua temen juga bakal lulus, karena pernah dulu pas SD ada temen-temen yang males, tugas banyak yang kosong, atitudenya sama sekali gak baik sampe aku ikutan mikir “Ni anak apa bakal lulus sih?” ternyata mereka ya lulus-lulus aja. Palingan buat yang nilainya jelek dan kalau sifatnya masih keterusan bakalan susah cari SMA/SMK, mengingat syarat diterimanya lebih berat dibanding pendaftaran SMP.

    Ngomong-ngomong soal SMA, ternyata banyak yang udah buka pendaftaran, bahkan sejak saya masih Semester 1. Ada temen-temen yang daftar di sekolah negeri atau swasta, ada yang daftar di SMA atau SMK. Pilihan mereka gak ada yang salah, karena setiap orang punya tujuannya masing-masing, termasuk dalam memilih jenjang pendidikan.

    Kalau saya pilih sekolah di luar kota, tepatnya di SMA Kolese Loyola. Proses daftarnya cukup susah karena ada 2 jalur yaitu Jalur Prestasi dan Jalur Tes. Untungnya berhasil keterima. Memang usaha tidak mengkhianati hasil.

    Banyak temen dan guru yang heran kenapa saya milih di situ dan gak yang deket-deket aja, mengingat lokasinya yang di luar kota. Ada banyak alasannya, mulai karena sekolahnya yang bagus, pengen mandiri, bentuk jaringan, dll. Namun tujuannya tetap satu:

    Keluar dari zona nyaman.

    Selama saya di rumah merasa udah nyaman banget, kalau ke sekolah selalu diantar meski deket, banyak kenalan, udah familiar sama nama jalan dan tempat. Kalau ada masalah? Orang tua siap bantuin. Tapi ya karena itu, sifat negatif seperti malas, mendunda-nunda, dan nggampangake sering muncul.

    Makanya saya pilih sekolah di luar kota. Jaraknya yang jauh dari rumah, ya mau/gak mau harus nge-kost buat melatih kemandirian, karena termasuk sekolah favorit jadi harus belajar yang rajin supaya gak keteteran lagi seperti dulu pas SMP, bisa buat jaringan, dan ikut banyak kegiatan.

    Bukan berarti kalau mau keluar dari zona nyaman harus sekolah diluar kota, zona nyaman tiap orang beda-beda. Banyak juga temenku yang sekolah di dalam kota tapi orangnya mandiri, rajin, punya banyak kegiatan dan jaringan.

    Namun yang terpenting dan banyak juga yang nanya, “Kamu udah siap Brand?”

    5 comments on Aku Siap!
  • Belajar Tatap Muka

    21 November 2021
    Sekolah
    Gambar lantai 1 sekolah sekarang, sepi karena foto ini diambil ketika temen-temen udah pada pulang.

    Akhir-akhir ini saya tertarik membaca, mendengar, dan menonton kisah orang-orang generasi milenial (lahir tahun 1980–1995) dan Generasi Z awal, tentang kehidupan mereka ketika SMP, SMA. Saat itu Corona belum menjajah dunia.

    Mereka sering bercerita tentang indahnya masa itu, mulai dari kocaknya kelakuan teman-teman, sifat-sifat guru, terlambat ke sekolah, lomba 17 Agustus sekolah, tidur di kelas, seramnya dipanggil guru BK, deg-degan menanti hasil UN, ulang tahun di kelas, dan lainnya.

    Banyak yang bilang masa paling indah di SMP ketika kelas 8. Salah satu alasannya karena kalau kelas 7 masih malu-malu karena baru kenal, kelas 9 sibuk-sibuknya belajar buat ujian dan daftar SMA.

    “Hah, kelas 8? Di mana indahnya?!”

    Begitulah yang ada di benak saya. Bosan, banyak kendala. Pelajaran full online 1 tahun lamanya, tidak ada interaksi langsung sama teman, melulu ikut meeting via Google Meet/Zoom harus buka kamera. Internet lemot pas meeting? Selamat menikmati seni suara patah-patah~

    Sebenarnya masih banyak lagi kendala sekolah online yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya.

    Untungnya 13 September lalu, sekolah berani melakukan pelajaran tatap muka (setelah dapat izin dari pemerintah tentunya). Bisa dibilang telat, karena saya sudah kelas 9, belum sempat merasakan nikmatnya kelas 8 tatap muka. Hehe. Tapi gak apa-apa.

    Kasus Corona sudah turun drastis, banyak teman dan guru sudah vaksin. Apa berati semua boleh masuk?

    Eits….. tidak segampang itu kawan.

    Meskipun boleh, tetap ada aturannya. Corona masih ada, meski kasus turun bisa naik lagi kalau lengah.

    Belajar tatap muka hanya boleh dilaksanakan 3x dalam seminggu (hari Senin, Selasa, Rabu atau Kamis, Jumat). Jam masuk siswa dibagi menjadi 2 shift bedasarkan no. absen, ganjil dan genap untuk menghindari kerumunan. Saat siswa ganjil masuk, siswa genap ikut pelajaran online, begitupun sebaliknya. Saya sendiri absen 4, jadi masuk pada jam genap.

    Peraturan lengkapnya ada di sini:

    Karena waktu jeda pulang-berangkat antara shift 1 (09:30) dan shift 2 (10:00) yang terlalu singkat hanya 30 menit, minggu berikutnya sudah direvisi oleh sekolah jadi 1 jam. Pelajaran dimulai pada shift 2 menjadi jam 10:30. Siswa jadi tidak perlu terburu-buru pulang dan mandi untuk lanjut pelajaran online di rumah, terutama yang rumahnya jauh.

    Saat berangkat sekolah pada shift 1 (07.00–09:30) persiapan yang saya lakukan tak jauh beda seperti sekolah biasa. Bangun jam 05:30, mandi, sarapan, sikat gigi, berangkat. Pulang jam 09:30 langsung mandi, ngemil snack kalau laper, terus lanjut pelajaran jam 10:30 secara online di rumah. Memang yang terbiasa bangun siang harus bisa menyesuaikan diri lagi.

    Kalau berangkat pada shift 2 (10:30–12:30) persiapannya sama, tapi ikut pelajaran online dulu paginya sebelum berangkat jam 10:00. Enaknya bisa bangun lebih siang semisal jam 06:00/06:30.

    Ketika masuk sekolah ada pengecekan suhu tubuh. Yang menarik dari alat pengecekan suhu tubuh ini, selain bisa mendeteksi suhu, juga bisa berbunyi “Suhu anda normal.” jika suhu tubuh kita berada di bawah 38°C. Sejauh ini belum pernah kejadian siswa yang suhu tubuhnya 38°C atau lebih, entah apa jadinya kalau dideteksi alat pengecekan suhu. Apakah nanti menjadi “Suhu anda tidak normal.”?

    Salaman juga tidak boleh, sebagai gantinya cukup dengan melipat kedua tangan atau menundukkan kepala.

    Sekarang, di depan setiap kelas ada tempat cuci tangan. Dulu sebelum pandemi, hanya ada 2 tempat cuci tangan di setiap lantai sekolah, kalau kelasnya ditengah harus pergi ke pojok kiri/kanan sekolah untuk cuci tangan.

    Gambar tempat cuci tangan sekarang, jadi gak perlu ribet lagi pergi ke pojok.

    Semua siswa dan guru wajib pakai masker, selain membantu mencegah virus, jadi kelebihan tersendiri bagi yang merasa mukanya gak good looking karena ketutup masker.

    Di dalam kelas, terdapat hand sanitizer dan buku saku panduan pembelajaran tatap muka di setiap meja siswa. Ruang kelas juga terlihat sangat bersih. Semua fasilitas kelas yang rusak sudah diperbaiki.

    Ketika mengajar para guru harus multitasking, mengajar di sekolah sambil mengajar yang di rumah melalui Google Meet. Teman-teman di sekolah bisa melihat siapa saja teman di rumah yang ikut pelajaran melalui proyektor.

    Biasanya guru menjelaskan materi via PowerPoint yang ditampilkan di proyektor. Guru juga bisa menjelaskan di papan tulis, agar yang di rumah bisa ikut melihat, guru menggunakan kamera lalu diarahkan ke papan tulis seperti ini.

    Saya senang selama Pelajaran Tatap Muka, ada banyak hal positif yang muncul. Pembelajaran sekolah terlihat semakin baik, bisa ketemu teman-teman lagi, guru dan siswa mampu terus beradaptasi, dan tidak ada kasus Corona baru di sekolah selama PTM.

    Semoga tahun depan Corona bisa menghilang sepenuhnya dan bisa belajar bareng teman-teman tanpa adanya pembatasan. Memunculkan kembali makna sekolah yang sebenarnya.

    11 comments on Belajar Tatap Muka
  • Untung Rugi Masa Pandemi

    13 November 2021
    Cerita

    Tinggal 1 bulan lagi kita sudah berada di penghujung tahun 2021. Selama masa pandemi ini, ada banyak pengalaman yang bisa saya dokumentasikan. Mulai dari kisah belajar online, hobi, berita duka, hingga adaptasi kebiasaan baru. Bisa saya katakan, pengalaman tahun ini campur aduk.

    Saya mulai melihat masa pandemi ini sebagai 2 sisi. Rugi dan Untung. Ada orang yang sedang ancur-ancuran, ada juga yang malah naik daun.

    “Apakah kamu merasa diuntungkan atau dirugikan selama masa ini?”

    Sejujurnya, saya mengalami keduanya. Beberapa hal membuat saya rugi, ada juga yang membuat saya untung. Pada post ini, saya akan menceritakan untung dan rugi bedasarkan pengalaman pribadi. Kita mulai saja dari yang rugi dulu, biar endingnya bisa manis. Hehe.

    1. Kedisiplinan Menurun

    Pandemi mengurangi kedisiplinan saya secara signifikan, bahkan hingga saat ini. Sebagai pelajar kelas akhir, terutama kelas 9, sudah seharusnya saya menjadi siswa yang paling disiplin dibandingkan dengan adik kelas. Yang biasanya selalu dituntut yaitu mengumpulkan tugas tepat waktu, aktif dalam tugas kelompok, mencari/meningkatkan prestasi agar mudah keterima di SMA nanti.

    Karena sistem pembelajaran masih online dan tatap muka terbatas, Instagram, Twitter, WhatsApp, YouTube, dan kawan-kawannya sudah bukan lagi sahabat yang jauh. Jenuhnya mengerjakan tugas, di situlah godaan untuk bermain media sosial muncul. Tugas dan ulangan mulai menjadi proyek yang tertunda. Terus ditunda membuatnya bengkak seperti utang pinjol. Tak jarang saya dijapri, diumumkan ke grup kelas belum mengerjakan beberapa tugas dan ulangan.

    Saya sadar ini masalah serius bagi saya. Mulai besok, saya coba membatasi waktu media sosial saya maksimal 1 jam 30 menit dan memprioritaskan waktu saya untuk mengerjakan tugas, ulangan, dan belajar. Metode ini rencanannya akan saya terapkan secara konsisten.

    2. Bergadang

    Saya juga sering bergadang untuk menyelesaikan tugas dan ulangan. Jam 11–12 malam baru tidur. Mama saya pun tak lupa setiap hari membujuk saya mengentikan kebiasaan buruk ini. Bergadang juga tidak enak bagi saya, karena hanya mengurangi semangat dan membahayakan kesehatan.

    Mulai ingat masa kecil saya ketika kelas 1–6 SD, dimana saat itu tidur jam 9 malam bukanlah hal yang sulit. Sekarang, tidur jam 9 saja sudah merupakan berkat istimewa bagi saya.

    3. Jarang Olahraga

    Papa saya selalu bilang, di usia saya olahraga adalah hal penting dan harus konsisten dilakukan minimal 1 jam/hari. Selain memaksimalkan pertumbuhan, juga mencegah berbagai penyakit seperti Diabetes, Penyakit Jantung, Gagal ginjal, dan lainnya.

    Masalahnya, olahraga yang saya lakukan masih tidak konsisten dan masih kurang banyak untuk usia saya. Saya hanya treadmill 3x dalam seminggu, durasi 30 menit. Kalau sibuk/malas hanya sekali dalam seminggu. Rebahan lebih saya cintai ketimbang olahraga. Hehe.

    Sekarang kita masuk bagian untungnya.

    1. Hobi Baru

    Selama SFH, saya mulai tertarik mempelajari hal baru, hingga hal baru itu sekarang jadi hobi saya. Hobi saya sukai saat ini adalah fotografi, dan bermain gitar.

    Hal yang saya pelajari dari fotografi yaitu komposisi fotografi, jenis-jenis kamera, berbagai ukuran sensor kamera, software editing, Segitiga Eksposure (ISO, Aperture, Shutter Speed), dan lainnya. Saya biasa mengupload karya fotografi saya di Instagram (@brandonprajogo).

    Sedangkan gitar saya belajar tentang nada dasar, jenis-jenis petikan, mengiring lagu menggunakan gitar.

    2. Makin Peduli Kebersihan

    Sesuai anjuran WHO dan Kementerian Kesehatan RI, kita harus menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi. Cuci tangan, jaga jarak, pakai masker selalu jadi prioritas. Karena saya sudah sering melakukan maka hal itu sudah jadi kebiasaan saya. Saya juga terbiasa meningkatkan kebersihan tubuh saya seperti sering cuci muka, mandi, dan sikat gigi.

    3. Jarang Panik

    Hal kecil sebetulnya, tapi entah kenapa selama ini saya jarang merasa panik. Biasanya kalau masalah datang, selalu saya hadapi dengan tenang dan tentunya berusaha mencari solusi. Karena saya sadar panik tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan membuat masalah seolah-olah lebih besar dari yang kita kira.

    4. Suka Baca Buku

    “Membaca adalah jendela dunia.” Ketika kita membaca buku, banyak pengetahuan baru yang kita terima.

    Sebelum pandemi, saya tergolong orang yang malas baca buku. Buku yang saya baca biasanya hanya buku pelajaran. Sekarang saya mulai sering baca buku lain terutama tentang keuangan dan teknologi. Selain menambah ilmu, membaca buku juga membantu mengurangi candu media sosial yang saya alami.

    5. Mendapat Penghasilan Tambahan

    Mencari pendapatan tambahan sepertinya bagus juga, karena bisa meringankan beban finasial orang tua dan hasilnya juga dapat disisihkan untuk masa depan saya seperti biaya SMA dan Kuliah.

    Maka itu pada bulan November 2020 lalu saya membuka usaha toko online kecil-kecilan yang bernama Ventura Online Store di Shopee. Saya bersyukur produk saya lumayan laku, karena itu saya juga berencana membuka cabang di Tokopedia.

    Itulah beberapa keuntungan dan kerugian yang saya alami selama masa pandemi. Yang pasti, sebesar apapun kerugian/kegagalan/kesalahan kita jangan pernah berhenti bersyukur. Jadikan kerugian yang kita alami sebagai pelajaran, agar membuahkan banyak keuntungan di kemudian hari. Semangat!

    No comments on Untung Rugi Masa Pandemi
  • Kembali Lagi

    19 June 2021
    Updates

    Brandon kemana aja nih? Kok udah gak lama nulis? Ditelan Bumi kah?

    Haha enggak kok… saya masih ada disini. Cuma sempat ada beberapa kegiatan padat yang harus saya jalankan sebagai seorang pelajar.

    Ya semester 2 di setiap jenjang pelajaran memang mulai ribet-ribetnya, karena sudah termasuk persiapan kenaikan kelas. Mulai dari mengikuti PTS hingga PAS dan mengerjakan tagihan tugas. Yang paling berat menurut saya ketika mengerjakan tugas-tugasnya, rasanya lebih banyak aja ketimbang sekolah tatap muka. Fun fact nya, selama di kelas 8 ini full sekolah online, jadi belum ngerasain belajar bareng temen-temen secara ketemuan langsung di sekolah. Ini hal yang wajar, mengingat masih dalam situasi pandemi dan kasus virus COVID-19 di Indonesia lagi meningkat signifikan sampai sekarang.

    Saya waktu itu pernah sampai hampir lupa kalau punya blog, karena ya udah lama gak nulis ini. Coba lihat saja post terakhir, post itu saya upload tanggal 6 Februari 2021. Cukup lama bukan?

    Post terakhir itu juga ketika saya masih menggunakan tampilan blog lama. Sekarang tampilannya sudah baru menjadi lebih minimalis, lebih responsif, dan lebih cantik tentunya. Karena tampilan ini juga blog saya sekarang jadi urutan paling atas kalau kalian cari blog saya di Google. Saya harap kalian suka dengan tampilan baru ini.

    Ngomong-ngomong soal nugas, saya orangnya bukan orang yang ambisius banget atau malas sampai level gak niat ngerjain tugas/ulangan. Meskipun saya pernah dibilang rajin sama temen, tapi ada di suatu masa saya males sampai tugas banyak yang numpuk sampai 10 tugas. Mungkin kalian yang juga pernah sekolah online pernah ngalamin juga. Hehe.

    Yang pasti sekarang semua tugas saya sudah beres, dan udah rapotan juga. Untung sekolah masih memberi banyak kesempatan. Hasilnya? Ya… lumayan lah. Lebih bagus dibanding semester lalu dan naik kelas 9. Kelas terakhir sebelum melanjutkan jenjang SMA. Cepet banget, masih merasa baru masuk kelas 7 aja.

    Ada kabar baik juga nih bagi yang nungguin saya kembali ke dunia Youtube, saya sudah ada rencana bikin konten lagi. Biar kualitasnya ikut meningkat saya juga sudah beli kamera baru. Kebetulan juga adik saya juga beli laptop baru yang speknya lebih bagus dibanding laptop saya, mungkin sementara saya pinjam laptop dia dulu buat edit kontennya. Setelah itu tinggal nyusun ide yang sudah dibuat menjadi sebuah skripsi, dan bisa mulai rekaman. Kalau kalian ada ide konten juga boleh banget tulis di kolom komentar.

    Di post berikutnya saya juga akan membahas tentang project cerita yang akan saya buat di platform lain. Jadi stay tuned untuk perkembangan selanjutnya!

    No comments on Kembali Lagi
Previous Page
1 2 3
Next Page

Brandon Prajogo

Personal Blog

    • Arsip
    • Tentang